
Pendidikan Seks untuk Remaja
Ajen Dianawati
Penerbit PT Kawan Pustaka, 2006.
Maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja akhir-akhir ini, antara lain disebabkan oleh kurangnya pengetahuan mereka tentang pendidikan seks yang jelas dan benar. Pendidikan seks kebanyakan hanya diketahui dari penjelasan teman (yang belum tentu benar), membaca buku-buku porno, melihat gambar-gambar porno dari buku maupun internet, bisa juga dari penjelasan yang kurang lengkap dari orang tua. .... Buku ini bertujuan agar para remaja, baik putra maupun putri, dapat memperoleh pemahaman yang jelas dan benar untuk menjawab keingintahuan seputar masalah seks.Begitulah kurang lebih cuplikan dari prakata penulis buku Pendidikan Seks untuk Remaja, Ajen Dianawati. Secara terencana gue emang iseng mencari buku-buku tentang seksualitas di perpustakaan pusat belakangan ini. Setelah menemukan sejumlah buku, semuanya adalah buku asing yang lumayan tebel, gue memutuskan untuk mencari buku yang berbahasa Indonesia. Nemu nih, satu, buku ini.
Pendidikan Seks untuk Remaja ini, sesuai dengan judulnya, ditujukan untuk pembaca usia belasan, sehingga cover-nya pun berwarna-warni dan menggunakan ilustrasi anak seragam putih abu-abu.
Buku ini membahas seksualitas dari tahap awal perkembangan manusia hingga menginjak usia remaja. Selain itu, penjelasan mengenai anatomi organ-organ reproduksi laki-laki dan perempuan juga dijelaskan di sini, tak lupa dengan pembahasan mitos-mitos seksualitas yang selama ini beredar, dijelaskan benar atau tidaknya.
Lebih lanjut, bab-bab berikutnya membahas seputar proses kehamilan, aktivitas seksual, masturbasi, oral seks, anal seks, gangguan fungsi seksual, penyakit seksual menular seperti HIV/AIDS, gonorea, sifilis, herpes, dan sebagainya.
Pendidikan Seks untuk Remaja patut diapresiasi. Pasalnya, tidak banyak buku mengenai pendidikan seks BERBAHASA INDONESIA yang beredar di masyarakat. Kita tahu sendiri sumber-sumber yang kita dapat di internet belum tentu terbukti secara ilmiah. Maka dari itulah gue lebih senang mencari referensi dari buku atau jurnal ilmiah karena mereka pasti sudah melalui 'portal akademik'; diverifikasi kembali kebenarannya, hubungan logikanya, dan sebagainya sehingga bisa digunakan sebagai referensi... well seenggaknya lebih dapat diandalkan, lah.
Kemudian, sudut pandang. Itu jadi hal yang lumayan penting bagi gue. Kenapa? Emang sih nggak semua buku harus menyatakan ini secara tersurat, tapi pasti ada keberpihakan dalam menyusun sebuah tulisan. Dari situ kita bisa lihat siapa target pembaca yang dia bidik. Apa yang ingin disampaikan. Apa misinya. Ada korelasinya, lho.
Dalam bab kelima, dijelaskan mengenai kelainan seksual. Menurut buku ini, penyimpangan seksual adalah cara yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan jalan tidak sewajarnya. Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah dengan meggunakan objek seks yang tidak wajar.
Dari 18 contoh kelainan seksual yang dijelaskan, satu di antaranya adalah homoseksualitas. Sebenarnya nggak masalah kalo penulis ingin bilang bahwa homoseksualitas adalah kelainan seksual. Hanya saja, konsekuensinya dia harus mampu menunjukan data ilmiah yang mendukung kenapa homoseksualitas dikategorikan sebagai kelainan seksual. Dan sayangnya, buku ini tidak menyajikan itu. Buku ini malah cenderung bias dan terjebak dalam miskonsepsi yang membingungkan.
Kenapa?
Pemasukan homoseksualitas sendiri sebagai salah satu dari kelainan seksual adalah sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Coba cari literatur ilmiah yang benar-benar disusun oleh akademisi yang concern di bidangnya. Kalaupun pengertian 'kelainan' di sini adalah menyangkut persepsi masyarakat mengenai mana yang normal dan abnormal, apakah bijak menempatkan homoseksualitas sebagai sesuatu yang abnormal padahal dalam kenyataannya ADA bagian di masyarakat kita yang sudah bisa menerima hal ini? Penempatan homoseksualitas sebagai salah satu dari kelainan seksual seolah menegaskan kembali garis abnormalitas antar-orientasi seksual. Memberikan penjelasan tentang mana yang benar dan mana yang salah tanpa diperkuat oleh sumber yang benar adalah SALAH. Well, gue ga bisa ngomong banyak because I'm not an expert in gender studies. Tapi satu hal yang pasti adalah, homoseksualitas tidak termasuk dalam kelainan seksual, bisa diklarifikasi kebenarannya melalui jurnal-jurnal ilmiah atau expertise-nya langsung. Adalah konyol ketika tiba-tiba muncul sebuah buku mengenai pendidikan seks di tahun 2000-an ke atas yang masih menegaskan bahwa homoseksualitas adalah kelainan.
Kedua, konsistensi penulis terhadap pandangannya mengenai homoseksualitas patut ditinjau kembali. Sebuah kalimat dicetak tebal di pinggir halaman 76, berbunyi seperti ini:
"Homoseksualitas sebenarnya bukan tergolong penyakit pada umumnya, melainkan lebih cenderung kepada pilihan identitas seseorang."
Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa penulis berpandangan bahwa homoseksualitas BUKAN penyakit. Namun dalam paragraf lain penulis menjelaskan bahwa:
"... untuk lebih tepatnya, jika penderita homoseksual tersebut laki-laki, sebutannya gay... Jika penderita homoseksual tersebut seorang perempuan, sebutannya lesbian."
Gue kira penulis sudah sepakat bahwa homoseksualitas bukan penyakit. Tapi kok masih ada kata-kata penderita dalam pembahasannya? Jadi mana yang menurut penulis benar? Gue sebenarnya meragukan bahwa penulis berpandangan ini bukan penyakit, karena dalam paragraf ketiga ia menambahkan:
"... Karenanya, cara apapun yang digunakan untuk penyembuhannya tidak selamanya akan berhasil."
Sudah jelas bahwa penderita adalah orang yang mendapatkan suatu penyakit, sedangkan penyembuhan adalah proses penghapusan penyakit tersebut. Kalau homoseksualitas menurut penulis bukanlah suatu penyakit, ada baiknya kata-kata tersebut dihapuskan untuk menghindari kebingungan dari pembaca.
Tetapi jika kata-kata tersebut hadir dalam kesengajaan... well. I am really confused.
Heteronormatif
Dalam studi tentang gender, kita mengenal istilah heteronormatif. Menurut beberapa sumber, termasuk Wikipedia (dengan sedikit perubahan) (sebenernya gue pengen cari sumber lain yang lebih ilmiah, tapi definisi ini sifatnya umum sih jadi it's okay), heteronormatif adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah norma yang meyakini bahwa manusia dibedakan menjadi dua gender yang berbeda (laki-laki dan perempuan), bersifat saling melengkapi, dan memiliki peran alamiahnya masing-masing dalam kehidupan. Heteronormatif juga menghendaki bahwa heteroseksualitas adalah orientasi seks yang normal, dan menghendaki pula bahwa hubungan seksual dan pernikahan yang paling cocok (dan hanya akan cocok) jika dilakukan antara laki-laki dan perempuan.
Sudut pandang heteronormatif meyakini bahwa heteroseksualitas adalah keadaan basic; bukan merupakan salah satu dari beberapa orientasi seksual yang ada. Kasarnya, heteronormativitas berkehendak bahwa heteroseksualitas adalah orientasi yang paling benar dan normal. Heteronormativitas sering terekspresikan secara tersirat sebagai 'hal yang umumnya diterima oleh masyarakat secara normatif' melalui media cetak, media elektronik, pendidikan, pembuat kebijakan, dan perilaku masyarakat pada umumnya.
Pandangan heteronormatif tidak dapat menyenangkan semua orang. Ada anggota masyarakat yang rawan jadi objek diskriminasi dan prejudice, yakni mereka yang berperilaku tidak sesuai dengan norma-norma yang dikehendaki. Misalnya, heteronormativitas menghendaki perempuan untuk menikah dengan laki-laki dan membentuk sebuah keluarga. Bagaimana dengan perempuan yang menikah dengan perempuann? Ini adalah penyimpangan secara heteronormatif. Selanjutnya, pandangan-pandangan masyarakat yang stereotipikal mengikuti. Itulah, salah satu sebab mengapa homophobia bisa lahir.
Statement bahwa "homoseksualitas merupakan objek yang penderitanya disebut gay dan lesbian serta penyembuhannya tidak selalu berhasil" secara tidak langsung mengatakan bahwa homoseksualitas adalah sesuatu yang salah/tidak sehat/tidak sewajarnya. Dengan demikian, heteroseksualitas adalah yang benar. Heteronormatif? Menurut gue: ya.
Sangat disayangkan bahwa buku pendidikan seksualitas yang ditujukan untuk remaja mengarahkan pembaca kepada pandangan tentang mana yang benar dan mana yang 'kelainan' tanpa mengecek kembali keilmiahannya. Lebih disayangkan lagi ketika buku ini mengambil sudut pandang heteronormatif. Seolah-olah buku ini hanya disegmentasikan kepada remaja-remaja heteroseksual. Bagaimana jika pembaca mempunyai preferensi seksual lain? Buku ini nampak meletakkan "orientasi seksual selain-straight" sebagai objek. Apakah itu sesuatu yang baik ketika pembaca diletakkan sebagai objek? No, certainly.
Ketika pengetahuan hanya untuk mereka yang heteroseksual, saat itulah diskriminasi terjadi. Di mana kesetaraan yang dijunjung dalam pendidikan seksualitas? Kesetaraan bukan hanya untuk penyetaraan hak laki-laki dan perempuan (yang terpisahkan secara biologis), tetapi juga kesetaraan peran gender, preferensi seksual, serta identitas seksualitas lainnya. Ketika poin tersebut ditinggalkan, masih pantaskah disebut sebagai pendidikan seksual?
Kita menghadapi kondisi di mana seksualitas di mata masyarakat dipandang dari berbagai segi, berbagai persepsi. Nilai, norma, semua orang berusaha mempertahankan, semua orang berusaha meyakinkan dengan hal-hal yang setidaknya diyakini sebagai fakta. Adalah mungkin ketika kemudian terjadi salah paham, ketidaksesuaian, pertentangan, bahkan mitos yang hadir yang kemudian terus berkembang seperti bola salju. Konsekuensinya, orang-orang dicap dan dinilai berdasarkan identitas seksualnya.
Tugas pendidikan seksualitas adalah MELURUSKAN stigma dan persepsi tersebut, baik dari segi medis maupun etika (menurut gue). Mana yang salah dan benar harus jelas, ada landasan medisnya (kalau perlu landasan hukumnya juga), mana yang menjadi realita, mana yang sebaiknya dilakukan, mana yang menjadi hak dan kewajiban, mana yang berisiko, mana yang harus dihargai, dan sebagainya. Jika pendidikan seks masih melanggengkan diskriminasi, meskipun secara halus, ke dalam ranah ilmiah (padahal landasan ilmiahnya belum dapat dibuktikan), bisa dong disebut sebagai sesat pikir? :)
Ada juga satu hal yang lumayan menggelitik. Kembali ke pernyataan:
"Homoseksualitas sebenarnya bukan tergolong penyakit pada umumnya, melainkan lebih cenderung kepada pilihan identitas seseorang."
Gue menyangsikan pendapat ini. Sekaligus, secara subjektif gue mau bilang bahwa gue cukup kenyang dengan pernyataan-pernyataan sejenis:
"Hargai dia, itu kan pilihan dia." "Semua orang kan jalan hidupnya beda-beda, kita harus menghormati pilihan dia sebagai lesbian." "Semua ini salah lo, siapa suruh milih jadi gay?"
Guys, kalo preferensi seksual adalah pilihan, tanpa bermaksud menyinggung, mungkin nggak akan ada orang yang mau secara sadar memilih jadi homoseks atau biseks. Adalah benar jika orientasi seksual itu fluid, cair, memungkinkan untuk berubah akibat faktor-faktor tertentu. Namun adalah SALAH jika dikatakan bahwa orientasi seksual merupakan pilihan. Apakah kita memilih secara sadar ingin merasakan romantic attractions kepada siapa? Pertanyaan simple:
"Sejak kapan Anda memilih menyukai lawan jenis?"
Adakah pertanyaan seperti itu? Apa jawabannya? Akan sama halnya dengan:
"Sejak kapan Anda memilih menyukai sesama jenis? Sejak kapan Anda memilih menyukai laki-laki dan perempuan? Sejak kapan Anda memilih untuk tidak menyukai keduanya?"
Nggak ada jawaban pasti bahwa kita MEMILIH secara SADAR orientasi seksual kita. Belum ada statistika yang meyakinkan, tapi coba keep it real aja deh. Bisa nggak lo sekarang memilih: "gue mau suka laki-laki, ah", trus lo suka laki-laki dalam sekejap?
Homoseksualitas bukan Gangguan Mental
Sebagai tambahan, pada tanggal 17 Mei 1990, World Health Organization (WHO) menghapus homoseksualitas dari daftar mental disorders. Homoseksualitas sudah tidak lagi terdapat dalam The International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems revisi ke-10 (ICD-10), sebuah daftar klasifikasi medis mengenai penyakit dan gangguan lainnya yang dikodifikasi WHO. Sudah banyak bukti riset yang mengindikasikan bahwa homoseksualitas 'kompatibel' dengan kesehatan mental dan daya penyesuaian sosial yang normal.
Tanggal 17 Mei kemudian diperingati secara global sebagai Hari Internasional Melawan Homophobia (International Day Against Homophobia, IDAHO), menjadi kesempatan bagi semua orang, terutama komunitas LGBTQ untuk menyuarakan kesetaraan.
Kayaknya agak naif kalau mengatakan penghapusan homoseksualitas dari daftar penyakit versi WHO adalah 'konspirasi Amerika-Yahudi-Zionis yang notabene-nya menggunakan HAM sebagai senjata penindasan'. Bisa dicek di Google, berapa persen negara bagian di Amerika Serikat yang melegalkan pernikahan sesama jenis? Setengahnya pun nggak ada! So please don't try to correlate human rights as American political strategies, foreign affairs and stuff. It is somewhat nonsense -,-
Tidak ada salahnya untuk mulai sadar. Toh tahun 1990 bukan kemarin sore. Apakah kita terlalu sibuk selama 21 tahun terakhir ini? Banyak hal yang berkembang di luar sana, sampai kapan kita mau terus ketinggalan? Atau, lebih tepatnya lagi, sampai kapan kita mau terus pasif dalam mengakui keberagaman sendiri?
Karenanya, membaca saja tidaklah cukup.
Membaca kebenaran, itu baru 2011 :)
Jakarta, 6 November 2011
Rahmat Sah Saragih