Inilah gue, di saat sedang dikejar deadline tugas esai buat orientasi kampus-so called, gue malah berakhir di laman New Post. Apalagi kalo bukan galo. Galo sama diri sendiri. Gue punya banyak banget pertanyaan, pengen banget numpahin semua pertanyaan itu. Gue juga takut. Takut ngasih informasi yang salah. Takut ngasih informasi yang bikin orang lain semakin nggak ngerti, bahkan antipati. Gue pengen banget menjawab. Tapi gue sadar bahwa omongan gue selama ini lebih banyak opininya daripada fakta yang bisa gue pertanggungjawabkan. Terkadang orang nggak butuh opini, orang ingin denger fakta. Gue juga terkadang ngerasa belum cukup pintar untuk jadi orang yang opininya worth it buat didenger. Opini gue selama ini masih berdasarkan ego, dengan pemikiran lo-nggak-ada-di-posisi-itu-jadi-lo-ga-bisa-bayangin.
Gue pengen banget bisa menjelaskan ke orang apa yang gue rasain, apa yang gue yakini, tanpa teralu banyak opini yang nggak berdasar (hukum). Gue bingung. Gue rasa gue tahu semua jawaban yang lo tanya, tapi gue akan bingung buat mengeluarkannya secara verbal. Karena yang ada dalam pikiran gue adalah "menurut gue", dan gue ngerasa nggak nyaman ketika gue harus memaksakan opini gue ke orang tanpa ada dasar logika yang bisa gue utarakan dengan tepat. GUE YAKIN apa yang gue pikirin ini logic, gue yakin ada dasarnya, tapi gue nggak tahu cara menyampaikannya.
Percuma gue ngomong tentang kesetaraan hak-hak ini itu, kalo gue sendiri nggak bisa ngasih contoh konkret. Percuma gue bilang gue pro-LGBTIQ kalo ketika dihadapkan dengan "pandangan religius-so called" gue kicep tanpa argumen. Percuma kalo gue bilang LGBTIQ punya hak yang sama dan emang seharusnya sama, tapi gue nggak bisa jelasin kenapa gue bilang itu harus begitu.
Gue pengen bisa jelasin, sejelas air yang paling bening, sehitam tinta yang paling pekat, tapi kenapa gue selalu ngerasa kurang? Gue ngerasa selalu kurang pinter. Gue ngerasa gue belum bisa jawab semua pertanyaan ini dengan bener, gue ngerasa gue egois dengan memberikan jawaban yang "menurut gue". Gue pengen bisa kasih jawaban yang bikin orang jadi peduli sama apa yang gue omongin, dan bikin orang ngerasa tercerdaskan, bukan tercurhati.
Gue butuh belajar. Ini adalah titik di mana gue PENGEN BANGET buat ngomong, tapi gue gak tau mau ngomong apa. Ini adalah teks di mana gue cuma bisa bikin ide pokok paragraf, tapi gak ngerti gimana bikin kalimat-kalimat pendukungnya. Ini adalah jawaban yang gak gue keluarkan lewat mulut. Ini adalah keinginan gue. Gue pengen belajar, biar gue punya sesuatu.
Seandainya lo tau, berapa banyak hal yang ingin gue (secara egois dan opinion-oriented) klarifikasi. Ketika orang bilang kalo LGBTIQ itu abnormal dan penyimpang sosial, gue pengen bilang ENGGAK. Ketika orang bilang kalo LGBTIQ itu pendosa, gue pengen bilang KENAPA. Ketika orang bilang kalo LGBTIQ itu pelaku free-sex, gue pengen bilang APA BUKTINYA. Ketika orang bilang dia takut tertular homoseksualitas, gue pengen tanya MANA YANG MENULAR, HOMO ATAU KEBENCIAN. Ketika orang ngelarang pernikahan sesama jenis, gue pengen bilang MORAL APA YANG DIRUSAK PERNIKAHAN SESAMA JENIS. Ketika orang bilang LGBTIQ itu karena trauma masa kecil, gue pengen bilang TAU DARI MANA. Ketika orang bilang LGBTIQ itu harus disembuhkan, gue pengen tanya APAKAH HETEROSEKSUALITAS JUGA BISA DISEMBUHKAN. Ketika orang tanya gimana LGBTIQ di mata Tuhan, gue pengen jawab GUE GAK TAU KARENA: 1) GUE BUKAN TUHAN, 2) MENURUT GUE TUHAN NGGAK BAKAL NYIPTAIN SESUATU YANG MENURUTNYA SALAH CETAK.
Dan kapan lo bisa ngerasain rasanya jadi minoritas dan didiskriminasi dengan berbagai stigma dan stereotipe? Apakah SEMUA gay senang sodomi? Apakah SEMUA lesbian penderita HIV/AIDS? Apakah SEMUA transgender pengamen jalanan? Apakah SEMUA biseksual penipu? Apakah SEMUA heteroseksual adalah orang normal? Apakah kita harus men-judge satu orang berpreferensi seksual tertentu dengan kata SEMUA ORANG SEPERTI DIA ADALAH... (isi sendiri)?
Inilah gue, egois, penuh opini, miskin fakta dan argumentasi. Ajarin gue.
2 Comments:
Lagi-lagi kita punya pikiran yang sama, gom. Gue suka cerita sama tmn2 gue betapa gue pengen banget membuat orang-orang yang nggak percaya dengan Allah bisa ngerasain perasaan gue yang percaya dengan Allah. Gue pengen bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaa mereka tentang Allah supaya mereka bisa yakin bahwa Allah itu ada, konkret, dan siap ngebantu mereka kapapun dimanapun, bukannya cuma seonggok materi yang nggak bisa didefinisikan. Ada, tapi abstrak. Tapi apalah gue ini? Gue bukan nabi, iman dan pengetahuan gue masih terlampau cetek untuk membantu mereka mengintepretasikan Allah. Gue mau belajar lebih banyak lagi.
Omong-omong soal LGBTIQ, gue punya pendapat (lagi-lagi opini) gue sendiri tentang itu. Lo boleh kok pro-LGBTIQ, bagi gue itu bukan sesuatu yang salah. Gue sendiri juga tidak mendiskriminasi mereka ,meskipun gue suka becanda dengan itu.
Jujur ya gom, menurut gue menjadi seorang homoseksual atau bukan adalah sebuah pilihan. Bukannya ujug-ujug terjadi kayak fenomena kelamin ganda. Waktu gue SD dan SMP, gue pernah mikir kalau gue seorang lesbian karena gue cemburu banget ngeliat sahabat perempuan gue punya temen lain selain gue, gue nangis kayak orang patah hati waktu tahu dia punya pacar, waktu gue harus beda sekolah sama dia waktu SMP tiap malam gue nangis mikirin dia, gue bikin puisi tentang dia setiap hari. Saat itu gue pikir, gue nggak normal. Tapi, gue nggak begitu aja menerima pikiran itu. Gue memilih untuk menjadi normal. Gue berdoa supaya Allah mau untuk selalu melindungi gue dari pikiran-pikiran aneh seperti itu.
Gue bukan seorang homophobia, tapi gue juga bukan seorang yang mengharpkan homoseksual menjadi suatu yang sah. Kalau ada teman gue yang homoseksual, gue pasti menganggap dia berbeda. Tapi nggak juga jadi mendiskriminasi mereka. Gue akan tetap berteman dengan mereka bahkan kalau memungkinkan gue akan membuat mereka jadi heteroseksual karena menjadi heterosekual memang fitrah kita sebagai makhluk.
Gue tidak bilang elo dan pemikiran lo salah, sementara gue benar atau pun sebaliknya. Gue cuma mau sharing tentang apa yang pernah gue alami dan apa yang ada di kepala gue.
Gue pernah baca di salah satu kaos buatan joger,
"Kalau di kiri, jangan ekstrem ke kiri. Kalau di kanan, jangan ekstrem ke kanan. Kalau di tengah, jangan ekstrem ke tengah. Yang wajar-wajar sajalah"
Mungkin komen ini bisa merubah pandangan lo tentang gue, Gom. Gue cuma mau share. Titik. Nggak ada maksud lain.
Thankiee Awe for your thoughts, longest comment you've ever made here :P
Bagi sebagian orang, orientasi seksual itu bukan sebuah pilihan. Orientasi seksual ada begitu saja, sama seperti orang2 straight yg ga pernah tahu sejak kapan dia suka lawan jenis :)
Post a Comment