September 26, 2011

Because You Think Being A Girl Is Degrading





Ah, belum lagi gue inget definisi nilai dan norma, tapi gue rasa kadang-kadang pikiran gue suka nggak sesuai dengan nilai dan norma yang (sayangnya) berlaku di marih. Banyak hal yang sebenernya udah sering gue denger jauh waktu gue masih kecil, bahkan kayaknya udah terinternalisasi dalam pikiran gue, sehingga terkadang gue merasa nggak enak, atau bahkan merasa bersalah, ketika gue sedang mempertanyakan hal-hal berikut ini:
  • Kenapa harus laki-laki yang nyeberangin perempuan?
  • Kenapa harus laki-laki yang ditunjuk dalam hal angkat-mengangkat, misalnya begini "eh barangnya berat nih, ayo dong yang ngerasa cowok, angkatin."
  • Kenapa harus perempuan yang biasanya diajukan jadi sekretaris atau notulen?
  • Kenapa laki-laki nggak boleh ngeluh?
  • Kenapa laki-laki harus macho?
  • Kenapa menangis hanya jadi hak perempuan?
  • Kenapa laki-laki harus suka perempuan? Dan kenapa perempuan harus suka laki-laki?
  • Kenapa ada budaya ladies first?
*harus di sini artinya konsekuensi sosial, kalo nggak dilaksanakan akan memperoleh cap/stigma tertentu.

Suatu ketika dalam ospek, some with black tape would usually ask something, and if ONLY girl who answered, they would say something like, "cowoknya mana nih kok nggak ada yang jawab? Masa kalah sama cewek?" Atau ketika yang memberanikan diri buat maju adalah perempuan, bakal ada tanggapan "ceweknya aja berani, masa cowoknya enggak?" Well tau nggak sih, pandangan seperti ini menurut gue secara nggak langsung mengandung makna bahwa selama ini perempuan masih dianggap punya keberanian setingkat di bawah laki-laki. Buktinya kalo perempuan yang maju, anak laki-laki langsung dikomparasi seolah-olah kalo yang maju si perempuan berarti ada yang nggak bener sama keberanian si laki-laki? Juga ada pemahaman seolah-olah laki-laki yang harus menang. Buktinya kalau perempuan yang maju, yang laki-laki langsung diteriaki "masa mau kalah sama cewek?" Emang laki-laki kenapa kalo kalah sama perempuan? Dosa?

Ada juga budaya "bawain barang" yang biasanya diikuti dengan embel-embel "eh cowok sadar diri dong bantuin yang cewek angkatin barang". Entah apakah maksudnya ini berarti perempuan lebih lemah dibanding laki-laki sehingga harus terus dibantu atau memang laki-laki harus tampil sebagai superior sehingga harus terus ikut campur dalam kegiatan yang berbau fisik?

Kemudian, ladies first? Banyak orang menganggap bahwa ladies first adalah budaya yang santun. Kesannya menghargai perempuan sehingga mereka patut diberikan tempat pertama di mana pun mereka berada. Kenyataannya, ladies first merupakan legitimasi atas (lagi-lagi) gagasan bahwa perempuan adalah objek yang memiliki kapasitas setingkat di bawah laki-laki. Coba kita pikirkan kembali konsep ladies first: dalam sebuah toko buku, seorang laki-laki dan perempuan sedang "berebut" buku yang stoknya hanya tersisa satu. Laki-laki kemudian mengalah dengan alasan bahwa lawannya adalah perempuan. Ladies first, she finally got the book because she is a woman. Seolah-olah perempuan harus selalu "diberikan kemenangan" dengan cara laki-laki yang "mengalah". Gue nggak setuju dengan konsep ini. Menurut gue laki-laki dan perempuan memiliki hak dan potensi yang sama, untuk itu keduanya harus berkompetisi secara sehat dan setara. Well, in case kalo kasusnya si laki-laki tadi sedang #kode dengan perempuan di toko buku itu, it's an exception <3

Ini yang paling menyedihkan bagi gue:
amiraruzuar:

icanhave:

more true than most people realize.

“because you think being a girl is degrading”

Ketika seorang perempuan menjabat posisi tinggi di TNI, orang-orang memujinya karena ia mampu bergelut di dunia pria yang tough. Bandingkan dengan tanggapan masyarakat pada umumnya mengenai laki-laki yang bekerja sebagai fashion designer (yang secara stereotipikal merupakan profesi perempuan). Gue pernah menyaksikan situasi di mana ketika seorang laki-laki sedang berbicara dan suaranya kurang lantang, ia diteriaki "ngomong yang kenceng, jangan kayak cewek dong!" Dalam hati gue, loh emang kenapa kalo kayak cewek? Salah? Jadi cewek salah?

Gue berpandangan bahwa secara nggak langsung sesungguhnya nilai-nilai diskriminasi itu udah terinternalisasi dalam pola pikir kita. Perlu ekstra-kritis menerima setiap nilai atau pandangan dari orang-orang sekitar, even dari keluarga sekalipun. Well ini berlaku bagi gue juga sih yang kadang-kadang masih berpikir rata bahwa semua perempuan itu cranky. Nggak benar, bukan?

Okay, next topic!

Seringkali orang-orang yang concern memperjuangkan hak-hak LGBTIQ dibilang aktivis LGBTIQ, kemudian pemberdaya perempuan dibilang feminis, dan sebagainya. Sebenernya nggak ada yang salah, sih, tanpa membuat kita semakin pusing, tapi gue pribadi lebih setuju dengan pandangan bahwa ini semua tentang hak asasi manusia. Seperti kutipan yang pernah gue baca entah di mana, "women rights are human rights, LGBT rights are human rights." Artinya apa? Well, nggak jarang perjuangan kesetaraan hak untuk kaum-kaum termarginalisasi seperti ini pada akhirnya hanya bergerak di situ-situ saja karena pandangan bahwa "gue wanita, jadi gue harus membela hak wanita" atau "gue waria, jadi gue harus membela hak transgender dan transeksual". Kalo begini terus kan pada akhirnya kita hanya memperjuangkan kepentingan kita masing-masing secara sempit. Kita mengesampingkan fakta bahwa ternyata "dunia di sebelah kita" memiliki nasib dan perjuangan yang sebenarnya sama dengan apa yang kita geluti. Lantas kenapa kita masih senang mengotak-kotakan visi?

Gue sendiri percaya bahwa yang namanya gay rights itu nggak ada. Nggak lantas ketika kita punya preferensi seksual berbeda kita jadi punya hak istimewa, dong? Hak sipil setiap orang kan sama. Jadi gue percaya bahwa LGBTIQ is about human rights. Lagipula, untungnya memahami kesetaraan hak-hak kaum terminoritaskan melalui kacamata HAM secara utuh adalah kita jadi nggak berpikiran sempit. Bagi gue pribadi, yang super awam dan bodoh mengenai landasan yuridis dan sebagainya (maklum maba pascaospek), gue baru bisa melesapi HAM setidaknya dari The Universal Declaration of Human Rights

Pandangan yang gue dapat setelah memahami poin-poin di UDHR bener-bener luas, terutama pasal-pasal yang terkait dengan kesetaraan dan hak hidup. It's really applicable through discussion towards inequality issues like women, child, LGBTIQ, so on. See what I mean? Kasarnya, kalau kita udah kenal HAM dengan baik, mau ngomongin isu apa aja juga nyambung. Sehingga tidak harus perempuan saja yang "diperbolehkan secara sosial" untuk peduli akan isu kekerasan terhadap perempuan, laki-laki juga bisa. Ini juga bisa mendobrak stigma di masyarakat yang mengatakan bahwa cuma LGBTIQ aja yang concern dan stand up against LGBTIQ discrimination, ternyata straight people juga banyak yang concern. Trus ada juga gay yang peduli isu perempuan dan anak, ada orang sehat yang memberikan asistensi kemanusiaan untuk ODHA, ada wanita yang membela hak-hak sipil waria, dan ada mahasiswa hukum yang nge-tweet tentang bullying. Terus, so what? Apalah pentingnya tahu asal-usul si subjek? Apalah pentingnya stiker "Perempuan", "Laki-laki", "Straight", "Nggak straight", dan sebagainya? Kalo mau membela HAM ya bela HAM aja kali, tujuannya juga toh sama, menciptakan perdamaian dan kehidupan yang lebih ramah untuk semua manusia, iya kan?

Semoga kita semua dapat mengambil poin-poin dari artikel kali ini ya, karena gue sendiri takut nggak ada yang ngerti :P

2 Comments:

Asha said...

Asli hari ini saya galau gara2 hal ini...sayangnya for sentimental reasons, not for social even concerning about LGBTIQ (btw IQnya singkatan apa si?) reason...

Ah-ny-way

Kl ak justru mungkin 'kebalik'. Ak sirik abis sama cowok. Mulai dari segi hal sentimental tadi sampe hal2 yg serius macem peran cowok dalan berbagai aspek yg tentunya akan 'susah' untuk dicapai cewek...haha. Ak sendiri juga blm intelek dalam menanggapi masalah ginian. Masih harus berguru pada Gomat haha. Looking forward to discuss with u

Gomat said...

Tengkyu asha :D wow never thought you'd come to my blog. Thanks for sharing ur thoughts, we should do discuss! :D

Related Posts with Thumbnails