August 26, 2011

Provokator, Unsubscribe!

Menyandang status sebagai mahasiswa baru membuat gue terkadang merasa menjadi objek. Pengenalan ini itu, orientasi sana sini... oh well. Bagusnya adalah, rangkaian kegiatan selama hampir sebulan full ini (yang untungnya sekarang rehat dulu karena mau libur lebaran, makanya gue bisa nge-blog) membuat gue bisa kenal dengan banyak orang dan nggak ngerasa sendirian kayak dulu waktu hari pertama. Plus gue ketemu sama temen-temen lama, kayak anak Dukar, FOR, oh ya juga temen senasib (anak IPA nyasar ke FH, dan ternyata banyak bo). Haha. Serunya lagi, di sini gue bisa ngeliat betapa karakter orang bisa beda-beda banget ya ternyata. Nggak kayak di SMA yang keliatannya "ngekoooor aja". Di sini lo bisa nemuin orang dari yang idealis, agresif, berandal, sampe yang pasif, anak-ilang, tukang-cari-alasan... semuanya ada.

Oke. Ngalor-ngidul. Kembali ke pokok cerita. Tanggal 12 Agustus 2011 di Balairung ada kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus yang disingkat OKK. Kegiatan ini ditujukan untuk seluruh mahasiswa baru (maba) 2011, berlangsung selama dua hari. Nah, untuk tanggal 12-13 Agustus 2011 itu khusus untuk maba program reguler. Lanjut, seperti yang gue denger-denger sebelumnya, OKK itu lebih ke "talkshow-talkshow gitu deh", plus pengenalan dunia aktivisme kemahasiswaan. Untuk hari pertama, ada beberapa talkshow dengan tokoh-tokoh penting yang nggak terlalu gue perhatiin karena soundsystem-nya bergaung. Dan pula gue duduk di tengah agak ke belakang, lesehan sampe bokong tepos. Gue lebih mikirin gimana caranya gue bisa duduk sila tanpa bikin mata kaki gue menderita lebih parah.

Perlu dicatat bahwa gue nggak terlalu memerhatikan substansi acara hari itu. Haha. Siapa narasubernya, dari lembaga mana, I don't know. Cuma ada satu hal yang sempat menarik perhatian gue dalam arti yang positif, yaitu ketika seorang dosen menerangkan tentang Kuliah Kerja Nyata (K2N) yang biasanya dilaksanakan di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Guess what, gue liat salah satu lokasi K2N adalah di Pulau Waigeo, RAJA AMPAT! Huaa I will do anything, like ANYTHING, to go no matter what!

Menjelang siang, gue udah mulai ngantuk tapi terpaksa balik lagi ke Balairung. Berada di tengah teriakan yel-yel mahasiswa dan "lagu kebangsaan" yang terus-teruuus dinyanyikan, gue mulai merasa bosan dan... bukankah ini semacam doktrin jadinya? -___-"

(I'm not really into field activism like demonstration and stuff, FYI. So that day, umm, kinda didn't work for me)

Oke, nyaris di puncak (kejenuhan) acara, kami disuguhi tayangan video mengenai (lagi-lagi) aksi mahasiswa yang (kenapa selalu harus) berdemonstrasi. Dan ada seseorang yang terlihat sedang menyemangati para demonstran dengan kata-katanya yang membara.

Lalu hadirlah sang tokoh dari sisi belakang balairung, berjalan dengan membawa bendera merah putih ke atas panggung. Ya, inilah guest star yang dinanti-nanti, seorang motivator, sebut saja Ayam (nama samaran) yang mengaku sebagai sang provokator, akan membawakan sesi motivasi  untuk kami. Totalitas perjuangan! :)

Awalnya gue bertanya-tanya, "siapa sih Ayam?" Umumnya kan tokoh-tokoh pemuda Indonesia yang vokal di dunia youth empowerment pasti seenggaknya ngetop lah di internet. Tanpa bermaksud menyamakan, misalnya ada Alanda Kariza, Iman Usman, dsb... nah kalo Saudara Ayam ini gue belum pernah dengar sama sekali. Penasaran dong. Maka gue menyimak aja dengan anteng.

Ayam bercerita panjang lebar bahwa sekarang Indonesia sedang dilanda krisis moral, terutama pemudanya, diperjelas dengan multimedia berupa slideshow foto-foto yang menguatkan poin-poinnya. Pemuda Indonesia menurutnya sedang dilanda krisis percaya diri, dibuktikan dengan maraknya fenomena alay, lengkap ditampilkan pula foto-foto alay yang mengundang tawa dan saling tunjuk di antara maba.

Ada juga foto seorang anak SD yang menunjukkan jari tengah kepada pengemis tua. Ayam mengatakan itu adalah pertanda bahwa moral bangsa sedang terpuruk. *Ya boljug sih, cuma setau gue itu foto dari forum Kaskus gitu, apakah fix 100% itu foto asli?*

Next, and there was "the part"! Saat ketika dia sedang berapi-apinya menyerukan perlunya "perbaikan moral bangsa dan jangan sampai bangsa kita bermental ...." berikutnya ditunjukkan slide dengan foto dua orang laki-laki sedang bergandengan tangan. Ayam berseru, "BANCI!"

Tepuk tangan riuh mengiringi seruan, seperti sebuah kemenangan moral.

Dan gue hanya duduk dengan tangan menopang badan. Diam dalam kebingungan, yang diikuti jutaan tanda tanya, disusul kemarahan. (Perlu diketahui gue kalo marah masuknya ke dalem haha)

Gue merasa cuma gue doang yang nggak tepuk tangan saat itu. Damn. Ribuan maba masih tepuk tangan. Semangat berkobar, keinginan menegakkan moral bangsa begitu membuncah, tetapi haruskah semua itu dilakukan dengan menanamkan kebencian?

Please gue mau nulis sekarang. Terlepas dari status gue sebagai mahasiswa, alumnus 28, anak KIR, remaja labil, pengguna IM3, pasien dokter kulit RS Pondok Indah, penyandang dermatografi, penyuka Glee, penggila How I Met Your Mother, penyepik Twitter, pendengar setia Sonora FM (dulu), warga negara Indonesia, apapun itu plis lepas! Gue mau nulis sebagai manusia. 

Tega aja lo bilang alay sama banci jadi perusak moral?

Oke, mungkin gue juga banci kali ya kalo di kacamata orang-orang seperti dia. Gue cuma berani nulis di blog, and else. Terus apakah gue juga perusak moral bangsa? Lagi-lagi merujuk definisi kata "banci" sebenernya, apa yang mau diutarakan sang motivator sih?

Kalo mau positive thinking siiiih yaa mungkin yang bersangkutan salah ngomong, salah maksud gitu. Tapi sejauh ini nggak ada klarifikasi dari dia, jadi yah, mungkin yang gue tangkep saat itu adalah yang benar-benar dia maksud, bahwa jangan sampai kita jadi generasi banci. Just like those boys who were holding hand each other, right?

Gue pribadi sangat menyayangkan tokoh seperti ini diizinkan tampil di hadapan ribuan maba. Menurut gue, pandangan-pandangan yang diberikan di sesi itu membenarkan bahwa yang namanya LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer, dan Questioning) itu adalah amoral. Hmm? Bagaimana ini, mendidik kebencian di kegiatan mahasiswa baru? Gue nggak bisa bayangkan, di universitas negeri yang kelihatannya terbaik ini, bibit-bibit homophobia mulai ditebarkan sejak dini. Ketidaksengajaan? Introspeksi! Ini adalah tempat yang menjunjung tinggi logika dan rasionalitas, bukan? Lantas beri gue satu alasan, di luar ayat-ayat suci yang bisa ditasfsirkan tergantung siapa penafsirnya, kenapa kita nggak boleh jadi generasi banci? Banci apa dulu yang dimaksud? Banci yang cowok suka cowok, cewek suka cewek? Banci yang cowok suka pake baju cewek? Banci yang cewek nyamar jadi cowok? Atau banci yang menyerukan kebencian tanpa ada alasan yang jelas?

Gue juga menyayangkan sikap sebagian besar partisipan di acara tersebut. Mungkin ya mereka nggak bisa disalahkan juga, namanya juga maba. Tapi seandainya kita mau sedikit aja mengkritisi setiap hal yang kita terima dan nggak langsung trus tepuk tangan, dunia akan lebih baik :)

Di suatu malam, sekitar seminggu sebelum hari itu, gue punya optimisme yang besar akan kegiatan mahasiswa baru. Satu, karena katanya nggak ada pelonco. Dua, karena ketika gue sedang membolak-balik buku Panduan Kegiatan Mahasiswa Baru, gue menemukan ini di halaman 21: Ketetapan Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (TAP MWA UI) Nomor 008 Tahun 2004, pasal 8i, “warga Universitas Indonesia dilarang melakukan diskriminasi terhadap orang lain atas dasar agama, etnisitas, gender, orientasi seksual, orientasi politik, dan cacat fisik.”

Gue berharap banyak dari ketetapan itu. Gue pegang banget. Gue merasa berada di tempat yang tepat. Tapi well, 12 Agustus agaknya kampus "kecolongan" tuh. Semua setuju kan bahwa seharusnya tamu menghormati peraturan di rumah yang dikunjunginya? -___-" Beruntung, denger-denger ada salah satu dosen yang mengkonfrontasi sang provokator, entah langsung atau via Twitter, ga tau gue. Well if so, I will definitely find a way to take that lecturer's class! *bisa nggak ya?*

Sekali lagi, mungkin ini sepele bagi sebagian orang. Mungkin ada yang anggap ini sesuatu yang tidak perlu dibahas, lebih baik ngomongin BOP-B and stuff... tapi gue seneng bisa jadi saksi hidup insiden "sepele" OKK. Seperti yang gue bilang tadi, di sini gue ketemu beraneka ragam tipe manusia, jadi cuktaw aja. Dan ini bukan hal sepele bagi gue secara pribadi. Banyak hal yang bisa dibenci selain alay dan banci. Banyak kambing hitam yang memang dagingnya hitam. Banyak hal yang bisa dibenci di luar Gerbatama sana. Tapi apakah kita terus-menerus mau hidup dalam kebencian? Sampai sekarang gue masih teringat waktu dia menunjuk gambar di slide sambil teriak "banci". Jadi begini ya rasanya marah?

Gue harap insiden SARA begini nggak terjadi lagi di marih, di mana pun. Hate speech for the loss! Pelajaran buat semuanya juga. Buat panitia penyelenggara, lebih selektif lagi mencari motivator (sebenernya gue nggak butuh motivator sih, gue butuh psikiater). Untuk mahasiswa baru (termasuk gue), lebih kritis lagi menerima materi dari senior, dosen, dan berbagai pihak yang saat ini sedang gencar-gencarnya menanamkan ilmu sejuta paham kepada kita. Sukses terus untuk kemerdekaan berpikir dan kesetaraan ;)

Hari kedua OKK gue nggak dateng karena udah terlanjur bete kan. Mending ngerjain tugas fakultas, dari pada kena marah :P

PS: Untuk artikel mengenai insiden Ayam yang lebih akademis dan "bebas emosi jiwa", mampir ke sini. :)

0 Comments:

Related Posts with Thumbnails