Sekarang harus hati-hati kalau nulis di media sosial. Banyak pengamat 24 jam aka watcher aka observer (kalo nggak mau disebut stalker). Banyak orang kepo. Misalnya hari ini gue ngomongin doi di Twitter, tiba-tiba besoknya doi jadi follower gue di Twitter. Bahaha otomatis tweet-tweet yang kemaren harus diapus dong biar gue gak kicep (lupa pake nama samaran soalnya). Misalnya juga gue protes tentang kehidupan kampus (di Twitter), besok-besoknya gue dipanggil trus diinterogasi, soalnya tulisan gue itu nggak ada dasar hukumnya dan katanya berpotensi jadi pencemaran nama (baik?).
Pokoknya gue ambil aja positifnya, pendem negatifnya (kok dipendem?). Hhh susah juga jadi orang kayak gue ya, apa-apa dipendem. Amarah dipendem. Uneg-uneg dipendem. Sekalinya dikeluarin, pasti nge-blunt dan nyenggol sana-sini. Padahal gue udah berusaha nggak nyebut merek lho waktu itu.
Tapi ya itu sih, positifnya gue jadi tau kayak gimana sebenernya lingkungan itu. Bisa ngeliat semuanya secara transparan. Dan gue sekarang ngangguk-ngangguk aja dong. Ilmu gue masih cetek kaan, gue tau kok :) Liat aja tapi di sini gue akan belajar more than ever. Gue seneng bisa dapet kasus ini, karena gue jadi punya bahan cerita, jadi gue bisa kenal sama komponen-komponen kampus dengan cara yang unik. Apapun yang terjadi, gue ngerasa lebih di-respect kayak gini, dibanding gue nggak dianggep sama sekali kayak peserta bayangan.
Anyway lah ya. Semoga postingan ini nggak menyeret gue ke pengadilan. Dulu, gue seneeng banget (plus iri) kalo liat ada orang pake almamater kuning. Rasanya mereka dewa-dewi akademika gitu deh, maha dari semua siswa, teladan buat peradaban (zzz yes I said it). Ternyata nggak gitu juga sih ya. Hahaha. Sekarang kalo liat orang beralmamater bawaan gue ya 3S (senyum sapa sigap) haha. Gue pengen liat deh ada orang beralmamater nggak cuma demo di jalan, tapi juga turun ke jalan buat ngasih makan anak jalanan (mungkin emang gue aja yang belum pernah liat). Gue pengen liat deh ada orang beralmamater yang merangkul sahabat ODHA dalam cinta kasih. Orang beralmamater yang turun ke daerah-daerah bencana untuk meng-empower korban-korban bencana. Orang beralmamater yang bisa nyeberangin manula. Orang beralmamater yang bisa bilang bahwa laki-laki dan perempuan itu setara. Orang beralmamater yang berdiri melawan diskriminasi minoritas. Orang beralmamater yang senyum kalo disenyumin ;).
Yes betul, gue mungkin bukan siapa-siapa. Gue nggak tau apa-apa tentang almamater. Gue nggak tau sebelumnya bahwa almamater ini bisa bikin orang gugur dalam perjuangan, bahwa almamater ini almamater perjuangan penuh darah dan sebagainya, gue nggak punya dasar teori untuk bilang bahwa itu salah. Sebentar lagi maba-maba yang laper mata ini bakal dapet almamater, gue yakin profile picture dan avatar kita bakal menguning. Terus, that's it?
Gimana dengan semangatnya? Apakah almamater adalah jaminan kita jadi orang yang benar, jujur, dan adil? Apakah harus butuh almamater untuk menjadi orang seperti itu? Sejauh mana almamater bisa dijadikan patokan kehebatan seseorang? Mana yang lebih penting, almamater atau hati?
Mana yang lebih penting, almamater atau title sarjana?
Mana yang lebih penting, toa dan spanduk, atau laptop yang punya koneksi internet untuk bikin blog?
Mana yang lebih penting, individu atau kolektif?
Mana yang lebih penting, misi pribadi atau opini publik?
Mana yang lebih penting, jujur atau improvisasi?
Mana yang lebih penting, mulut atau telinga?
Mana yang lebih penting, marah atau senyum?
Mana yang lebih penting, gue atau kemampuan gue?
Seseorang pernah bilang ke gue bahwa masalah itu adanya di luar, bukan di dalam diri. Kalo masalah itu masih ada di dalam diri, itu tandanya gue masih jauh dari status mahasiswa. Waktu itu gue belum punya kata-kata buat menimpali (dan lagi situasinya nggak cocok), cuma sekarang gue mau menanggapi, bahwa adalah benar hidup gue bermasalah. Sejak 4 Februari 1993 gue lahir membawa masalah. Dan itulah yang membuat gue tetap hidup, karena gue punya tujuan untuk menyelesaikannya.
Jadi, apakah gue belum bisa jadi mahasiswa? Udah punya KTM lho padahal :)
Jadi, apakah gue belum bisa jadi mahasiswa? Udah punya KTM lho padahal :)
2 Comments:
Aaaa, Gomat! I miss you! I miss your blog! Gue juga punya pandangan yang sama dgn lu, Gom. Jadi maba itu serba salah. Hhhh...gue juga nggak dpt poin apa enaknya jadi BEM? Dulu waktu SMA gue pikir itu keren, tapi setelah gue melihat kenyataan...T^T gue mengurungkan niat gue ikut BEM. Apa yang hebat dari berdemo yang bikin jalanan macet? Apa yang hebat dari almamater kalo hal-hal kecil aja nggak ada yang concern? Anyway, semoga elu selalu bisa menyelesaikan masalah lu dengan baik ya, Gom...eh, yangko bisa diantar kemana nih, gom? Hahahah. See you soon yaa! ;)
Hahaha miss u too awe! Ya ampun. Ga nyangka ya kok kita selalu sepaham ya? Ckck. Yangko cus langsung dianter ke rumah gue dong hoho, ditunggu lhoo!
Post a Comment